Buah manis reformasi Paris Saint Germain di era Luis Enrique

Ibukota Indonesia – Akhirnya Paris Saint Germain-lah yang mana memutus rangkaian laga tanpa kekalahan Arsenal selama Kejuaraan Champions musim ini.
PSG juga yang menggagalkan The Gunners menjuarai kompetisi ini untuk pertama kalinya, di mana tendangan Gabriel Magalhaes melambung dari gawang PSG pada sepakan terakhir adu penalti.
Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, laga final Kompetisi Champions di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, akhirnya dimenangi PSG dengan skor 4-3 melalui adu penalti. Gol cepat Kai Havertz pada awal pertandingan sempat menyebabkan Arsenal unggul sebelum Ousmane Dembele menyamakan kedudukan lewat titik penalti pada fase kedua.
Nyaris pada semua aspek, PSG mendominasi laga final itu sehingga pantas menjuarai Kompetisi Champions sekaligus menjuarai kompetisi elite Eropa itu di dua musim berturut-turut.
Le Parisiens mendikte jalannya pertandingan tidak semata-mata melalui penguasaan bola, tetapi juga lewat kemampuan dia menembus sepertiga akhir pertahanan lawan. Achraf Hakimi dkk mengusai penguasaan bola dengan 65 persen berbanding 25 persen yang digunakan dikuasai Martin Odegaard cs.
Dominasi PSG juga tercermin dari jumlah total prospek yang digunakan mereka itu ciptakan. Klub jika Paris itu mengurangi 21 percobaan, dengan empat di dalam antaranya mengarah tepat ke gawang. Sementara itu, Arsenal hanya sekali mampu mencatatkan delapan peluang, dan juga cuma satu yang dimaksud tepat sasaran.
Bukti lain yang dimaksud memperlihatkan PSG berubah jadi penguasa final Kejuaraan Champions adalah jumlah kali merekan pada memasuki sepertiga terakhir lapangan. Dari statistik UEFA, PSG melakukan 44 tusukan ke sepertiga terakhir lapangan di mana Arsenal hanya sekali dapat dua kali.
PSG juga 13 kali masuk area penalti Arsenal, atau lebih tinggi dari dua kali lipat yang digunakan dilaksanakan The Gunners pada area penalti PSG.
Arsenal memang sebenarnya tangguh kemudian solid di bertahan dengan organisasi pertahanan yang rapat. Namun, pada laga ini PSG tampil lebih tinggi efektif, baik pada meredam serangan balik maupun mematikan inisiatif menyerang regu asuhan Mikel Arteta yang mana baru belaka mengakhiri penantian 22 tahun untuk kembali menjuarai Kompetisi Premier Inggris.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Teknologi AI di dalam web web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.



